MANDUTA – Ma’had Al Furqon MAN 2 Tulungagung menggelar kegiatan muwadaah santri pada Sabtu, 9 Mei 2026, di aula MAN 2 Tulungagung. Acara ini dihadiri oleh Kepala Madrasah, wakil kepala madrasah, serta pengurus Ma’had Al Furqon MAN 2 Tulungagung sebagai bentuk kebersamaan dalam menutup masa pengabdian dan proses belajar para santri dengan suasana yang hangat, khidmat, dan penuh rasa syukur. Kegiatan tersebut menjadi momen penting bagi keluarga besar MAN Tulungagung, sekaligus mencerminkan perhatian madrasah di bawah naungan Kemenag Tulungagung dan Kemenag Jawa Timur terhadap pembinaan karakter, keilmuan, dan akhlak santri.
Muwadaah berlangsung dalam suasana haru karena para santri yang selama ini tinggal dan berproses di Ma’had Al Furqon harus bersiap melangkah ke tahap kehidupan berikutnya. Selama berada di lingkungan Ma’had, mereka tidak hanya belajar ilmu agama dan disiplin hidup, tetapi juga ditempa untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, mandiri, dan bertanggung jawab. Karena itu, momen perpisahan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan ruang untuk mengenang perjalanan panjang yang telah dilalui bersama para pembina, pengasuh, dan sesama santri.

Kepala MAN 2 Tulungagung, Muhamad Dopir, menyampaikan bahwa muwadaah merupakan bagian penting dari perjalanan pendidikan di madrasah, karena dari Ma’had para santri belajar banyak hal yang tidak selalu didapat di ruang kelas. Ia menegaskan bahwa nilai-nilai kedisiplinan, kebersamaan, dan ketekunan yang dibangun selama di Ma’had akan menjadi bekal berharga untuk masa depan para santri. “Kami berharap anak-anak yang telah berproses di Ma’had Al Furqon ini membawa pulang tidak hanya ilmu, tetapi juga adab, kebiasaan baik, dan semangat untuk terus menjaga nama baik madrasah di mana pun berada,” ujarnya.
Sementara itu, Pengasuh Ma’had, Khoirul Huda, menyampaikan pesan yang menyentuh hati kepada para santri. Ia mengingatkan bahwa proses yang dijalani di Ma’had mungkin terasa berat, melelahkan, bahkan penuh pengorbanan, tetapi semua itu akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup mereka. “Di Ma’had ini kalian sudah berproses. Proses yang berat ini akan memperindah di masa depan. Proses yang pahit ini akan terasa manis di masa mendatang,” tuturnya. Pesan tersebut disambut haru oleh para santri yang hadir, karena menjadi pengingat bahwa setiap lelah yang pernah dijalani akan menemukan maknanya pada waktu yang tepat.

Dalam kesempatan itu, para santri juga mendapat pesan agar tetap menjaga hubungan baik dengan para guru, pengasuh, dan teman seperjuangan meskipun nantinya sudah tidak lagi berada dalam satu lingkungan. Kebersamaan yang dibangun di Ma’had Al Furqon diharapkan tidak berhenti hanya karena perpisahan, tetapi terus hidup dalam bentuk saling mendoakan dan menjaga silaturahmi. Bagi MAN 2 Tulungagung, muwadaah menjadi penegasan bahwa pendidikan tidak hanya soal capaian akademik, melainkan juga pembentukan hati, sikap, dan akhlak yang akan menyertai para santri sepanjang perjalanan hidup mereka.


Komentar Terbaru